Minggu, 28 Februari 2010

Kampus dan Dunia ku (Bagian 8)

0 komentar

Alhamdulillah aku bisa nulis diare lagi, aku mengenal banyak teman di kampus tercinta ku yaitu STMIK BUDIDARMA, disana aku mengambil fakultas Teknik Informatika Komputer, kenapa aku ngambil ini? ini adalah pilihan ku, ya! pilihanku, tiada unsur paksaan atau pun ajakan dari siapapun, bahkan awal aku masuk dunia Komputer aku telah pasang tekad bahwa aku harus kuasai seluk beluk komputer itu sendiri, emang sih banyak tantangannya, tapi saat itu aku mulai memiliki banyak teman disaat masih semester 1, baik teman-teman yang memiliki satu pandangan /prinsip maupun yang beda pandangan.
Saat itu aku sih kenal akrab dengan teman yang bernama Rama, dia adalah teman ikhwan pertama ku di kampus, orangnya cukup pinter dan berpendidikan, banyak hal juga yang aku pelajari dari dirinya meski ia tidak begitu mengetahui nya.

Senin, 22 Februari 2010

Kuliah (bagian 7)

0 komentar

akhirnya aku bisa ngelanjuti diareku ini, setelah aku ikut pengajian akhirnya keluarga kami mulai hidup bernaungan dengan Sakinah yang telah Allah gambarkan dalam Al-qur'an, namun Allah juga memberikan ujian kepada keluarga kami dari hinaan, cacian, ejean sampai pada pengucilan.... tapi keluarga kami tidak gentar sedikitpun karena ayah dan ibu ku memiliki prinsip, sesuatu yang udah ditetapkan Allah pasti terjadi dan yang tidak ditetapkan Nya maka tidak akan terjadi. lama juga sih dengan kondisi terkucil lebih kurang 2 tahun, akhirnya sebagian dari mereka sadar dan mengerti Islam itu seperti apa sih. kalau aku sendiri saat sekarang sudah duduk di bangku perkuliahan dan menginjak semester 6, repot juga sih kuliah pa lagi aku sambil kerja juga untuk bantu-bantu orang tua, tapi aku tetap nikmatin itu semua layaknya keju yang sangat lezat... he he he ngomong-ngomong jangan ngences ya... saat aku masuk bangku kuliah disemester 1 aku sangat canggung, maklum la wong deso, jadi aku kesana kemari gak brani alias grogi, di tambah lagi aku gak kenal siapa-siapa di Medan pada waktu itu... wah pokoknya getir deh. kita sambung lagi besok ya...

Kamis, 11 Februari 2010

Allahuakbar (bagian 6)

0 komentar

ini adalah kisah yang tak pernah aku lupakan dalam kehidupan ku ini, berawal dari ayahku, ayahku belum lama mengikuti satu pengajian yang bernama jama'ah tabligh (bersama-sama menyampaikan) kalau ga salah tu... kalau ada yang mau perbaiki artinya, aku perbaiki ntar, ayah ku sendiri mengenal jama'ah ini sudah agak lama sih...
tapi aku baru-baru aja, ketika lebih kurang 1 tahun , aku mencoba untuk keluar mengajak umat manusia yang sedang memikirkan keduniaan, disini aku mulai mengenal setiap karakter manusia yang berbeda-beda antara yang satu dengan yang lainnya,... kita sambung besok ya.. udah malam ni, ngantuk. jangan lupa besok bangun subuh ya.... tapi kalau aku yang kesiangan dibanguni juga ya friends....

Awal Mula Aku berorganisasi (bagian 5)

0 komentar

Aku mengenal organisasi juga melalui Kak Nasir dan Kak legino, dan organisasi pertama kali yang ku kenal itu adalah BKPRMI dan Remaja Mesjid, disini aku mulai di godok dan di tempah habis-habisan, saat itu aku pernah mengikuti pesantren kilat ramadhan selama 3 hari dan bertepatan lokasinya di Sei Mati tempat Guru atau Murobbi aku yang lainnya yang bernama Kak Ai (Aidir), Kak Ibun, Kak Abdurrahman, dan masih banyak lagi sesepuh disana. Kalau dipesantren ini saya diajari bagaimana bisa mengenal Tuhan dan Bagaimana memahami tiap-tiap makna yang terkandung didalam Al-qur'an (Tadabbur), Mantap deh......, setelah selesai penggodokan selama 3 hari dua malam aku dan teman-temanku pulang kekampung dengan perasaan rinduuuuuu bangeeeeettttt sama kedua orang tua, sampai mau nangis deh, karena di pesantren di ajari bagaimana agar kita bisa mencintai orang tua kita sebagaimana mereka mencintai kita, walau cinta kita dengan orang tua tu..jauh beda. Ga pernahnya aku pulang cium tangan Ibu dan Ayah, tiba-tiba aku pulang cium tangan mereka dan tau ga... mereka sangat bangga dengan aku mengikuti acara yang diadakan guru ku itu (Kak Nasir) perubahan demi perubahan telah aku lakukan yang dulunya aku menyembah berhala dan buat susah orang tua akhirnya aku mulai berubah sedikit demi sedikit tapi pasti. Kedua orang tuaku selalu mendukung aku jika aku mengadakan acara keagamaan dengan Kak Nasir dan Guru lainnya, disinilah titik awal keyakinan ku bahwa aku sudah dipercaya oleh kedua orang tuaku (subhanallah), semenjak itu aku mulai disibukkan dengan seambrek kegiatan ke agamaan.

Aku mulai memahami (bagian 4)

0 komentar

Ketika aku mengaji dengan M.nasir (kami biasa memanggil kak Nasir) yang sering memberikan pencerahan dan ceramah agama kepada aku dan teman-teman, disini aku mulai mengenal Islam lebih jauh lagi, Islam adalah agama Rahmatan Lil ‘alamin, Islam adalah agamanya semua nabi dan rasul, Islam adalah agama yang mengatur segala aspek kehidupan. Selain aku belajar Iqro, aku diajari banyak hal tentang Islam, Misalnya Shalat, berbakti kepada Orang Tua, berbuat baik kepada sesama, cara menghormati guru, dan yang paling penting aku diajari bagaimana aku bisa mencintai Tuhan diatas segalanya. Setelah beberapa bulan aku mengaji dengan Kak Nasir, aku pun mulai mengenal siapa guruku ini, ternyata beliau memiliki latar belakang yang mengagumkan, beliau kuliah di STAI JM, pada masa beliau masih sedikit sekali yang berminat untuk memasuki perkuliahan namun beliau punya tekad yang luar biasa. Setelah aku mulai memasuki jenjang membaca Al-qur’an datanglah seorang guru lagi yang tidak kala Ilmu dan pandangan beliau tentang Islam, beliau bernama Legino dan kami biasa memanggil beliau dengan panggilan kak legino. Dengan merekalah aku mulai meninggalkan kebiasaanku menyembah atau memasang sesaji baik itu perintah nenek moyang ataupun perintah teman-teman, terima kasih Kak Nasir dan Kak Legino semoga tetap dalam pakaian takwa

Selasa, 09 Februari 2010

Aku Mulai Mengaji (bagian 3)

0 komentar

Aku mulai mengaji pada saat aku duduk di kelas satu SD, saat kelas satu SD aku baru Iqro satu dan pada Saat kelas dua SD aku Iqro dua, aku diajari mengaji oleh seorang guru yang memiliki ilmu pengetahuan yang luar biasa, nama guru ku tersebut adalah Pak Misli dan Bang Eko, mereka berdua mengajari ku mengaji hingga aku Iqro lima dan aku sudah mulai hafal dengan bacaan sholat, suatu hari karena ada Isu yang tidak sedap untuk didengar akhirnya aku berhenti mengaji hingga kurang lebih satu bulan, dan aku melanjutkan mengaji dengan seorang guru yang bernama Muhammad Nasir, beliau juga masih memberikan motivasi dan pengajian kepada saya jika saya berada di Kampung, guru ku yang satu ini pada saat itu masih mudah dan belum menikah. Beliau dibantu dengan adik dan teman-teman beliau. Beliau memiliki pandangan yang luas tentang agama Islam

Senin, 08 Februari 2010

Aku Masuk SD (bagian 2)

0 komentar

Dalam kondisi masih menyembah gundukan, aku dimasukan ke sekolah dasar di SD Negeri 054912 letaknya di Kwala pesilam Afdeling II bangunan, disini aku memiliki teman baru dan cukup banyak hingga aku merasa senang sekali, ditambah lagi awal aku masuk SD aku diantar ibuku setiap pagi dan di jemput ketika aku pulang sekolah oleh Ibuku tercinta, aku dalam keadaan takut dan senang pada saat pertama kali menginjakkan kaki ku di sekolah, takutku karena aku belum mengenal dunia luar dan senangku karena ada ibu disampingku yang selalu setia menemaniku (Subhanallah), terima kasih ibu.

Tidak sampai disini pengorbanan ibuku, ketika aku sakit aku dijenguk disekolah dan dibawa ibuku kesebuah menteri yang telah disediakan oleh PT dimana ayahku bekerja, ibu ku sangat mengkhawatirkan kesehatanku hingga sampai aku menulis diare ini.

Disaat aku kelas dua SD, aku mulai diperkenalkan oleh Ibuku dengan mengaji Iqro dan Alif-alif, disini lah aku baru mulai mengenal kehidupan yang sesungguhnya dan betapa luar biasanya cinta seorang bunda kepada anaknya, ikuti kisah selanjutnya yang berjudul "Aku Mulai Mengaji"

Pandangan Hidup (bagian 1)

0 komentar

Segala sesuatunya berhulu pada pandangan-hidup. Kita akan menganut prinsip-hidup yang bersesuaian dengannya, dan Kitapun akan menganut pola-pikir yang bersesuaian dengan prinsip-hidup Kita itu. Oleh karenanya berhati-hatilah di dalam mengadopsi sebentuk pandangan-hidup tertetu. Ia akan secara signifikan sangat menentukan jalan-hidup Anda secara keseluruhan. Apapun agama yang kita anut lantaran kelahiran, awalnya, kita mungkin belum punya sebentuk pandangan-hidup tertentu yang pasti. Kita masih menjalani hidup secara coba-coba, dengan meraba-raba. Di dalam menjalaninya selama ini, mungkin kita telah tabrak-sana-tabrak-sini, sampai dengan menemukan sebentuk pandangan-hidup yang rasanya cocok, sesuai dengan kondisi fisiko-mental kita. Namun, kita mesti selalu ingat kalau kendati sesuatu rasanya cocok, ia belum tentu juga baik buat kita. Apa yang kita perlukan untuk menjalani hidup ini bukanlah yang rasanya cocok atau yang kita senangi, melainkan yang baik dan mendatangkan kebaikan buat kita dan orang lain; bahkan bila mungkin, ia juga bisa mendatangkan kebaikan buat sebanyak-banyaknya orang. Disinilah kita perlu amat berhati-hati.

awal mula pandangan hidupku semua berawal dari sebuah desa yang bernama Kw. Pesilam, dimana aku dilahirkan dari keluarga yang taat beragama lagi memiliki nilai-nilai adat yang tinggi, Ibuku sendiri adalah wanita yang tidak begitu cantik namun memiliki hati yang suci laksana mutiara yang terkena sinar mentari yang semakin berkilau kecantikan hatinya, ayahku sendiri adalah pria yang gagah perkasa tak kenal lelah maupun letih dalam menapaki hidup ini, dan adikku yang pertama bernama Yuswita, dia adalah sosok wanita sholehah yang pernah aku temui didalam kehidupan ini, sosok yang dirindukan setiap pria dalam mengarungi kehidupan yang panah ini dan dia lahir pada tahun 1991 dan adikku yang kedua bernama Muhammad Ridho yang amat bijaksana dalam bertutur kata lagi santun perangainya, ia lahir tahun 1996. Dan aku sendiri adalah pria yang dilahirkan sebagai abang dari kedua adik-adik ku ini, aku lahir pada tahun 1989.

saat aku lahir kedunia ibu dan ayahku sudah memiliki rumah sendiri yang cukup mewah dan terletak di daerah stabat, pada saat itu ibu dan ayahku masih bersebelahan tinggal dengan keluarga ayahku yang lainnya, dimana pada saat itu ibuku cukup merasa tidak enak hati dikarenakan apa yang telah ibuku buat untuk kebaikan ayahku dianggap salah oleh mereka, sehingga sekitar usia ku 4 tahun dan adikku Yuswita berusia 2,5 tahun berpindah tempat tinggal disebuah Pondok yang bernama Kw. pesilam, disana lah... aku mulai hidup baru, aku belum mempunyai teman sedikitpun dan ketika aku mulai memiliki teman, ternyata temanku belum mengetahui hakikat kehidupan ini (maklum masih berusia sekitar 7-8 tahun) sehingga mereka mengajak ku untuk menyembah sebuah gundukan tanah (gumuk dalam bahasa jawa) pertama aku menyembah gundukan tanah hatiku risau tak karuan karena aku beranggapan aku yang bodoh atau mereka yang bodoh sih, lambat laun aku juga terbiasa dengan kebiasaan mereka dan akhirnya aku ikut menyembah gundukan tanah tersebut hingga kami berikan sesaji berupa makanan yang kami makan juga setiap seminggu sekali.(Astaghfirullah).