Senin, 08 Februari 2010

Pandangan Hidup (bagian 1)

Segala sesuatunya berhulu pada pandangan-hidup. Kita akan menganut prinsip-hidup yang bersesuaian dengannya, dan Kitapun akan menganut pola-pikir yang bersesuaian dengan prinsip-hidup Kita itu. Oleh karenanya berhati-hatilah di dalam mengadopsi sebentuk pandangan-hidup tertetu. Ia akan secara signifikan sangat menentukan jalan-hidup Anda secara keseluruhan. Apapun agama yang kita anut lantaran kelahiran, awalnya, kita mungkin belum punya sebentuk pandangan-hidup tertentu yang pasti. Kita masih menjalani hidup secara coba-coba, dengan meraba-raba. Di dalam menjalaninya selama ini, mungkin kita telah tabrak-sana-tabrak-sini, sampai dengan menemukan sebentuk pandangan-hidup yang rasanya cocok, sesuai dengan kondisi fisiko-mental kita. Namun, kita mesti selalu ingat kalau kendati sesuatu rasanya cocok, ia belum tentu juga baik buat kita. Apa yang kita perlukan untuk menjalani hidup ini bukanlah yang rasanya cocok atau yang kita senangi, melainkan yang baik dan mendatangkan kebaikan buat kita dan orang lain; bahkan bila mungkin, ia juga bisa mendatangkan kebaikan buat sebanyak-banyaknya orang. Disinilah kita perlu amat berhati-hati.

awal mula pandangan hidupku semua berawal dari sebuah desa yang bernama Kw. Pesilam, dimana aku dilahirkan dari keluarga yang taat beragama lagi memiliki nilai-nilai adat yang tinggi, Ibuku sendiri adalah wanita yang tidak begitu cantik namun memiliki hati yang suci laksana mutiara yang terkena sinar mentari yang semakin berkilau kecantikan hatinya, ayahku sendiri adalah pria yang gagah perkasa tak kenal lelah maupun letih dalam menapaki hidup ini, dan adikku yang pertama bernama Yuswita, dia adalah sosok wanita sholehah yang pernah aku temui didalam kehidupan ini, sosok yang dirindukan setiap pria dalam mengarungi kehidupan yang panah ini dan dia lahir pada tahun 1991 dan adikku yang kedua bernama Muhammad Ridho yang amat bijaksana dalam bertutur kata lagi santun perangainya, ia lahir tahun 1996. Dan aku sendiri adalah pria yang dilahirkan sebagai abang dari kedua adik-adik ku ini, aku lahir pada tahun 1989.

saat aku lahir kedunia ibu dan ayahku sudah memiliki rumah sendiri yang cukup mewah dan terletak di daerah stabat, pada saat itu ibu dan ayahku masih bersebelahan tinggal dengan keluarga ayahku yang lainnya, dimana pada saat itu ibuku cukup merasa tidak enak hati dikarenakan apa yang telah ibuku buat untuk kebaikan ayahku dianggap salah oleh mereka, sehingga sekitar usia ku 4 tahun dan adikku Yuswita berusia 2,5 tahun berpindah tempat tinggal disebuah Pondok yang bernama Kw. pesilam, disana lah... aku mulai hidup baru, aku belum mempunyai teman sedikitpun dan ketika aku mulai memiliki teman, ternyata temanku belum mengetahui hakikat kehidupan ini (maklum masih berusia sekitar 7-8 tahun) sehingga mereka mengajak ku untuk menyembah sebuah gundukan tanah (gumuk dalam bahasa jawa) pertama aku menyembah gundukan tanah hatiku risau tak karuan karena aku beranggapan aku yang bodoh atau mereka yang bodoh sih, lambat laun aku juga terbiasa dengan kebiasaan mereka dan akhirnya aku ikut menyembah gundukan tanah tersebut hingga kami berikan sesaji berupa makanan yang kami makan juga setiap seminggu sekali.(Astaghfirullah).

0 komentar:

Posting Komentar